Latar Belakang

Sentra Inkubasi Riset Poltekkes Kemenkes Surabaya merupakan unit pengembangan dan hilirisasi inovasi kesehatan yang mendampingi hasil penelitian agar berkembang menjadi prototipe, produk, kekayaan intelektual, model bisnis, dan solusi yang siap diuji serta diadopsi oleh masyarakat, fasilitas pelayanan kesehatan, pemerintah, dan industri.

Poltekkes Kemenkes Surabaya menghasilkan berbagai penelitian di bidang kesehatan, teknologi elektromedis, keperawatan, kebidanan, gizi, kesehatan lingkungan, teknologi laboratorium medis, dan kesehatan gigi. Sebagian hasil penelitian tersebut memiliki potensi tinggi, tetapi masih memerlukan pendampingan untuk mencapai tingkat kesiapan teknologi yang lebih matang. Sentra Inkubasi Riset dibentuk untuk menjembatani kesenjangan antara hasil penelitian akademik dan kebutuhan nyata pengguna. Melalui proses kurasi, pengembangan prototipe, validasi, perlindungan HKI, pengembangan model bisnis, dan kemitraan, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas.

Visi, Misi, dan Tujuan

VISI

Menjadi motor penggerak transformasi riset kesehatan melalui percepatan hilirisasi inovasi yang berdampak bagi masyarakat, pelayanan kesehatan, dan industri.

MISI
  1. Mengidentifikasi dan mengkurasi hasil penelitian yang berpotensi untuk dikembangkan.
  2. Mendampingi peningkatan Tingkat Kesiapterapan Teknologi hasil penelitian.
  3. Memfasilitasi pengembangan prototipe dan validasi inovasi kesehatan.
  4. Mendorong perlindungan kekayaan intelektual dan pemenuhan aspek regulasi.
  5. Mengembangkan model bisnis dan strategi komersialisasi inovasi.
  6. Membangun kemitraan dengan fasilitas kesehatan, pemerintah, industri, UMKM, dan investor. Meningkatkan kapasitas peneliti dan inventor dalam hilirisasi inovasi.
TUJUAN
  1. Meningkatkan jumlah hasil penelitian yang siap diterapkan;
  2. Menghasilkan prototipe dan produk kesehatan yang tervalidasi;
  3. Meningkatkan jumlah paten, hak cipta, dan bentuk HKI lainnya;
  4. Mempertemukan inovator dengan pengguna dan mitra;
  5. Mendorong pembentukan startup atau unit bisnis;
  6. Meningkatkan dampak penelitian bagi masyarakat;
  7. Mendukung pencapaian indikator kinerja institusi.

Struktur Organisasi SIR

Tugas Pokok dan Fungsi
Ketua
  1. Memimpin perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi program Sentra Inkubasi Riset.
  2. Menetapkan arah strategis inkubasi riset, hilirisasi, HKI, prototyping, validasi produk, dan kemitraan eksternal.
  3. Mengkoordinasikan sekretaris, bendahara, dan seluruh divisi agar program berjalan sesuai target dan indikator kinerja.
  4. Membangun jejaring kerja sama dengan industri, pemerintah, rumah sakit, puskesmas, UMKM, dan mitra pengguna inovasi.
  5. Melaporkan capaian program, luaran inovasi, kendala, dan rekomendasi pengembangan kepada Kepala Pusat PPM dan pimpinan institusi.
Sekretaris
  1. Mengelola administrasi, surat-menyurat, dokumentasi, arsip, dan database kegiatan Sentra Inkubasi Riset.
  2. Menyusun jadwal kegiatan, notulen rapat, berita acara, laporan kegiatan, dan dokumen pendukung program.
  3. Mengkoordinasikan pengumpulan data program dari setiap divisi, termasuk data riset potensial, HKI, prototipe, mitra, dan luaran.
  4. Membantu Ketua dalam penyusunan rencana kerja, laporan kinerja, bahan presentasi, dan dokumen koordinasi kelembagaan.
  5. Memastikan kelengkapan dokumen administrasi untuk kegiatan inkubasi, kemitraan, pendampingan, dan pelaporan kepada Pusat PPM.
Bendahara
  1. Mengelola perencanaan, pencatatan, penggunaan, dan pelaporan keuangan kegiatan Sentra Inkubasi Riset secara tertib dan akuntabel.
  2. Menyusun kebutuhan anggaran program, termasuk kegiatan inkubasi, pelatihan, prototyping, HKI, validasi produk, dan kemitraan.
  3. Memastikan penggunaan anggaran sesuai rencana kerja, ketentuan institusi, dan prinsip transparansi serta akuntabilitas.
  4. Mengarsipkan bukti transaksi, SPJ, dokumen pertanggungjawaban, dan laporan realisasi anggaran.
  5. Berkoordinasi dengan Ketua, Sekretaris, divisi terkait, Pusat PPM, dan bagian keuangan institusi dalam pelaksanaan serta pelaporan anggaran.

A. Divisi Riset dan Kurasi

1. Tugas pokok

Divisi Riset dan Kurasi bertugas mengidentifikasi, menyeleksi, memetakan, dan menetapkan hasil penelitian yang memiliki potensi untuk dikembangkan melalui program inkubasi dan hilirisasi. Divisi ini menjadi pintu masuk seluruh usulan inovasi ke Sentra Inkubasi Riset.

2. Fungsi

a. Pemetaan hasil penelitian

  • Menginventarisasi hasil penelitian dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.
  • Mengelompokkan hasil riset berdasarkan bidang atau klaster kesehatan.
  • Memetakan status TKT (Tingkat Kesiapterapan Teknologi) setiap hasil penelitian.
  • Mengidentifikasi prototipe, metode, perangkat lunak, produk kesehatan, model pelayanan, dan teknologi tepat guna yang berpotensi dihilirisasi.
  • Menyusun basis data hasil penelitian potensial.

b. Kurasi proposal

  • Menilai kesesuaian proposal dengan masalah kesehatan prioritas Indonesia.
  • Menilai keterkaitan proposal dengan roadmap penelitian institusi.
  • Menilai keterkaitan dengan klaster unggulan Poltekkes.
  • Menilai kebaruan, manfaat, kesiapan teknologi, dan potensi dampak.
  • Menilai apakah proposal lebih tepat masuk hibah pra-komersial atau hibah komersial.
  • Memastikan bahwa usulan bukan sekadar penelitian dasar yang belum memiliki bukti konsep.

c. Validasi masalah dan kebutuhan pengguna

  • Memastikan masalah yang diangkat benar-benar dialami pengguna.
  • Mendorong tim melakukan wawancara dengan pasien, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, industri, atau pemerintah.
  • Menilai kejelasan pengguna, penerima manfaat, pembeli, dan pengambil keputusan.
  • Memastikan solusi memiliki pengguna dan lokasi implementasi yang jelas.

d. Penilaian kesiapan teknologi

  • Melakukan asesmen TKT awal.
  • Memverifikasi bukti yang mendukung klaim TKT.
  • Menentukan kesenjangan teknologi yang harus diselesaikan.
  • Menyusun target kenaikan TKT selama periode inkubasi.
  • Berkoordinasi dengan Divisi Prototyping dan Validasi untuk menetapkan rencana pengembangan.

e. Penyusunan prioritas program

  • Menentukan bidang prioritas inkubasi tahunan.
  • Menyusun tema hibah berdasarkan masalah kesehatan nasional dan daerah.
  • Memetakan kontribusi inovasi terhadap SDGs (Sustainable Development Goals).
  • Mengidentifikasi inovasi yang berpotensi mendukung kemandirian alat kesehatan.
  • Memberikan rekomendasi pendanaan dan pendampingan.

3. Kegiatan utama

  • Open call proposal inkubasi.
  • Klinik penyusunan proposal.
  • Desk evaluation.
  • Presentasi dan pitching awal.
  • Visitasi laboratorium atau lokasi riset.
  • Penilaian TKT.
  • Penyusunan portofolio inovasi.
  • Penetapan peserta inkubasi.
  • Monitoring substansi ilmiah selama program.

4. Luaran divisi

  • Database hasil riset potensial.
  • Peta klaster inovasi.
  • Daftar proposal terkurasi.
  • Hasil penilaian TKT.
  • Rekomendasi hibah pra-komersial atau komersial.
  • Peta masalah dan kebutuhan pengguna.
  • Roadmap pengembangan masing-masing inovasi.
  • Portofolio inovasi prioritas.
  • Laporan monitoring substansi penelitian.

5. Indikator kinerja

  • Jumlah hasil penelitian yang dipetakan ke SIR.
  • Jumlah proposal yang dikurasi.
  • Jumlah inovasi yang lolos inkubasi.
  • Persentase proposal yang memiliki pengguna dan mitra uji.
  • Jumlah inovasi yang naik TKT.
  • Jumlah inovasi yang sesuai prioritas kesehatan dan SDGs.
  • Jumlah inovasi yang berlanjut ke tahap hilirisasi.

B. Divisi Prototyping dan Validasi

1. Tugas pokok

Divisi Prototyping dan Validasi bertugas mendampingi pengembangan hasil penelitian menjadi MVP (Minimum Viable Product), prototipe pertama, MVP Plus, atau prototipe pra-komersial yang berfungsi, aman, dapat digunakan, dan siap diuji pada pengguna.

2. Fungsi

a. Pengembangan desain produk

  • Membantu menerjemahkan hasil penelitian menjadi spesifikasi produk.
  • Menentukan fitur wajib dan fitur tambahan.
  • Menyusun desain teknis dan desain fungsional.
  • Mendampingi desain mekanik, elektronik, perangkat lunak, aplikasi, atau sistem pelayanan.
  • Memastikan desain sesuai kebutuhan pengguna.
  • Mendorong penggunaan prinsip design for manufacturing.

b. Pembuatan prototipe

  • Mendampingi pembuatan proof of concept, prototipe, MVP (Minimum Viable Product), dan MVP Plus.
  • Membantu pemilihan komponen, material, sensor, aktuator, dan perangkat lunak.
  • Memfasilitasi penggunaan laboratorium, workshop, 3D printing, dan fasilitas produksi (opsional).
  • Menghubungkan tim dengan teknisi, ahli desain, fabrikator, atau industri.
  • Mengawal dokumentasi proses pembuatan produk.

c. Pengujian teknis

  • Menyusun protokol uji teknis.
  • Menguji akurasi, kestabilan, keandalan, daya tahan, latency, konsumsi daya, dan performa.
  • Membandingkan hasil dengan standar atau produk pembanding.
  • Mengidentifikasi kegagalan teknis dan potensi risiko.
  • Mengawal perbaikan desain berdasarkan hasil pengujian.

d. Validasi pengguna

  • Menyusun rencana uji usability.
  • Menguji kemudahan penggunaan.
  • Mengukur kenyamanan, keamanan, waktu penggunaan, dan tingkat kesalahan.
  • Mengumpulkan umpan balik pengguna.
  • Mengukur penerimaan tenaga kesehatan, pasien, dan institusi.
  • Mendorong iterasi prototipe berdasarkan hasil validasi.

e. Validasi lingkungan operasional

  • Menyiapkan uji di rumah sakit, puskesmas, laboratorium, komunitas, atau industri.
  • Memastikan prototipe dapat berfungsi pada kondisi nyata.
  • Menguji integrasi produk dengan alur pelayanan.
  • Menilai kebutuhan instalasi, pelatihan, kalibrasi, dan pemeliharaan.
  • Mengidentifikasi hambatan implementasi.

f. Manajemen risiko dan mutu

  • Menyusun identifikasi bahaya dan analisis risiko.
  • Menyusun SOP penggunaan.
  • Menyusun SOP pemeliharaan dan troubleshooting.
  • Menyiapkan dokumen spesifikasi dan rekam desain.
  • Berkoordinasi dalam penentuan standar pengujian.
  • Menyiapkan produk menuju proses sertifikasi.

3. Kegiatan utama

  • Workshop pengembangan MVP (Minimum Viable Product).
  • Design sprint.
  • Pembuatan prototipe.
  • Uji laboratorium.
  • Uji kinerja.
  • Uji usability.
  • Pilot test.
  • Iterasi desain.
  • Penyusunan SOP (Standard Operating Procedures).
  • Pendampingan sertifikasi dan standardisasi.

4. Luaran divisi

  • MVP (Minimum Viable Product) atau prototipe pertama.
  • MVP (Minimum Viable Product) Plus atau prototipe pra-komersial.
  • Spesifikasi teknis.
  • Desain dan gambar kerja.
  • Bill of materials.
  • SOP penggunaan.
  • SOP produksi.
  • Laporan uji teknis.
  • Laporan uji pengguna.
  • Laporan validasi lapangan.
  • Dokumen analisis risiko.
  • Rekomendasi perbaikan produk.

5. Indikator kinerja

  • Jumlah prototipe yang berhasil dibuat.
  • Jumlah MVP yang diuji kepada pengguna.
  • Jumlah inovasi yang mengalami peningkatan TKT.
  • Persentase produk yang lolos uji teknis internal.
  • Jumlah produk yang diuji di fasilitas kesehatan.
  • Jumlah iterasi desain yang diselesaikan.
  • Jumlah produk yang siap masuk pengujian standar atau sertifikasi.

C. Divisi HKI

1. Tugas pokok

Divisi HKI bertugas mendampingi, mengidentifikasi, melindungi, mengelola, dan memanfaatkan kekayaan intelektual yang dihasilkan dari kegiatan penelitian dan inkubasi.

2. Fungsi

a. Identifikasi potensi HKI

  • Melakukan penelusuran awal terhadap unsur kebaruan.
  • Mengidentifikasi bentuk perlindungan KI yang paling sesuai.
  • Menentukan apakah inovasi dapat dilindungi melalui paten, paten sederhana, desain industri, atau merek.
  • Mengidentifikasi kepemilikan KI.
  • Memastikan kontribusi masing-masing inventor.

b. Penelusuran kebaruan

  • Melakukan patent searching.
  • Menelusuri produk dan teknologi sejenis.
  • Menilai potensi novelty dan inventive step.
  • Mengidentifikasi risiko pelanggaran KI pihak lain.
  • Memberikan rekomendasi modifikasi sebelum pendaftaran.

c. Penyusunan dokumen KI

  • Mendampingi penyusunan deskripsi paten.
  • Menyusun klaim, abstrak, gambar, dan uraian invensi.
  • Mendampingi pendaftaran hak cipta.
  • Mendampingi pendaftaran desain industri.
  • Mendampingi pendaftaran merek startup atau produk.
  • Memeriksa kelengkapan administrasi.

d. Pengelolaan proses pendaftaran

  • Mengawal pengajuan KI.
  • Memantau status pemeriksaan.
  • Menangani tanggapan atas hasil pemeriksaan.
  • Memastikan pembayaran biaya pemeliharaan.
  • Menyusun database portofolio KI.
  • Menjaga tenggat waktu dan status perlindungan.

e. Komersialisasi KI

  • Menilai potensi ekonomi KI (berkerja sama dengan divisi Bisnis dan Kemitraan).
  • Mendampingi valuasi awal teknologi.
  • Menyiapkan skema lisensi.
  • Menyiapkan bahan perjanjian lisensi atau alih teknologi.
  • Mengatur pembagian royalti sesuai kebijakan institusi.
  • Berkoordinasi dengan Divisi Bisnis dan Kemitraan.

f. Tata kelola dan kepatuhan

  • Menyusun kebijakan kepemilikan KI.
  • Menjaga kerahasiaan invensi sebelum pendaftaran.
  • Menyiapkan non-disclosure agreement.
  • Mencegah publikasi sebelum strategi perlindungan ditetapkan.
  • Mengelola konflik kepemilikan dan kepentingan.
  • Memberikan konsultasi hukum awal terkait KI.

3. Kegiatan utama

  • Klinik HKI.
  • Patent landscape.
  • Patent drafting.
  • Pendaftaran paten dan hak cipta.
  • Pendaftaran merek dan desain industri.
  • Sosialisasi kepemilikan KI.
  • Pendampingan lisensi.
  • Audit portofolio KI.
  • Monitoring masa perlindungan.

4. Luaran divisi

  • Hasil penelusuran kebaruan.
  • Rekomendasi jenis KI.
  • Draft dan dokumen pendaftaran.
  • Paten atau paten sederhana terdaftar.
  • Hak cipta granted.
  • Merek terdaftar.
  • Desain industri terdaftar.
  • Database portofolio KI.
  • Draft lisensi.
  • Perjanjian alih teknologi.
  • Dokumen pembagian royalti.

5. Indikator kinerja

  • Jumlah inovasi yang memiliki strategi KI.
  • Jumlah pendaftaran paten.
  • Jumlah hak cipta granted.
  • Jumlah merek dan desain industri yang didaftarkan.
  • Jumlah KI yang dilisensikan.
  • Nilai royalti atau manfaat ekonomi KI (berkerja sama dengan divisi Bisnis dan Kemitraan).
  • Persentase inovasi yang terlindungi sebelum dipublikasikan.

D. Divisi Bisnis dan Kemitraan

1. Tugas pokok

Divisi Bisnis dan Kemitraan bertugas mengembangkan kelayakan bisnis, membentuk startup, mencari mitra, membangun model pemasaran, dan menghubungkan produk dengan pengguna, industri, investor, serta pasar.

2. Fungsi

a. Analisis pasar

  • Mengidentifikasi ukuran dan karakteristik pasar.
  • Mengidentifikasi calon pengguna, pelanggan, dan pembeli.
  • Menganalisis produk pesaing.
  • Menilai kebutuhan dan willingness to pay.
  • Menentukan segmen prioritas.
  • Menilai peluang substitusi produk import.

b. Penyusunan model bisnis

  • Mendampingi penyusunan BMC (Business Model Canvas).
  • Menyusun value proposition.
  • Menentukan model pendapatan.
  • Menentukan saluran distribusi.
  • Menentukan struktur biaya.
  • Menentukan strategi hubungan pelanggan.
  • Menguji asumsi model bisnis.

c. Analisis kelayakan

  • Menyusun kelayakan pasar.
  • Menyusun kelayakan finansial.
  • Menghitung harga pokok produksi.
  • Menetapkan harga jual.
  • Menghitung break-even point.
  • Menyusun proyeksi pendapatan dan arus kas.
  • Menilai kebutuhan investasi.

d. Pembentukan startup

  • Menilai kesiapan tim menjadi startup.
  • Mendampingi pembentukan startup tipe C, B, dan A.
  • Membantu penyusunan struktur organisasi.
  • Mendampingi legalitas badan usaha.
  • Membantu penyusunan rencana bisnis.
  • Membantu pembagian saham dan peran pendiri.
  • Memantau perkembangan startup setelah inkubasi.

e. Pengembangan kemitraan

  • Mencari rumah sakit dan puskesmas sebagai mitra uji.
  • Mencari industri sebagai mitra produksi.
  • Mencari distributor sebagai mitra pemasaran.
  • Menghubungkan tim dengan pemerintah daerah.
  • Menjalin kerja sama dengan UMKM dan industri alat kesehatan.
  • Mencari investor, lembaga pendanaan, CSR (Corporate Social Responsibility), dan hibah lanjutan.
  • Mengembangkan kerja sama lisensi dan produksi bersama.

f. Strategi pemasaran

  • Mengembangkan identitas produk dan merek.
  • Menyusun materi promosi.
  • Menentukan kanal pemasaran.
  • Membantu pelaksanaan pameran, demo day, dan workshop.
  • Menyiapkan pitch deck.
  • Melatih tim melakukan pitching.
  • Mengawal uji pasar dan transaksi awal.

g. Negosiasi dan kontrak

  • Mendampingi penyusunan letter of intent.
  • Mendampingi perjanjian kerja sama.
  • Menyiapkan perjanjian produksi.
  • Menyiapkan kontrak distribusi.
  • Mendampingi negosiasi lisensi.
  • Mengawal kontrak pengadaan atau pilot project.
  • Berkoordinasi dengan bagian hukum institusi.

3. Kegiatan utama

  • Workshop BMC (Business Model Canvas).
  • Customer discovery.
  • Market validation.
  • Business matching.
  • Investor pitching.
  • Demo day.
  • Pameran produk.
  • Penyusunan rencana bisnis.
  • Pendampingan legalitas startup.
  • Negosiasi kerja sama.

4. Luaran divisi

  • BMC (Business Model Canvas) tervalidasi.
  • Analisis kelayakan pasar.
  • Analisis kelayakan finansial.
  • HPP dan harga jual.
  • Business plan.
  • Pitch deck.
  • Legalitas usaha.
  • Startup tipe C, B, atau A.
  • Letter of intent.
  • Perjanjian kerja sama.
  • Mitra produksi.
  • Mitra distribusi.
  • Kontrak pembelian atau pengadaan.
  • Materi promosi dan expose produk.

5. Indikator kinerja

  • Jumlah BMC (Business Model Canvas) tervalidasi.
  • Jumlah startup terbentuk.
  • Jumlah mitra uji.
  • Jumlah mitra industri.
  • Jumlah letter of intent.
  • Jumlah kontrak kerja sama.
  • Jumlah produk yang memperoleh transaksi.
  • Nilai investasi atau pendanaan.
  • Nilai penjualan atau lisensi.
  • Jumlah produk yang masuk pasar.

E. Divisi Edukasi

1. Tugas pokok

Divisi Edukasi bertugas meningkatkan kompetensi peneliti, inventor, mahasiswa, pengelola laboratorium, dan tim startup agar mampu menjalankan proses inkubasi, hilirisasi, dan komersialisasi secara mandiri.

2. Fungsi

a. Analisis kebutuhan pelatihan

  • Mengidentifikasi kesenjangan kompetensi peserta.
  • Menyusun peta kompetensi inkubasi.
  • Menentukan kebutuhan pelatihan per tahap.
  • Menyesuaikan materi dengan kategori pra-komersial dan komersial.
  • Menyusun program pengembangan kapasitas tahunan.

b. Pengembangan kurikulum inkubasi

Materi dapat mencakup:

  • identifikasi masalah;
  • design thinking;
  • customer discovery;
  • TKT;
  • pengembangan MVP;
  • validasi pengguna;
  • Business Model Canvas;
  • analisis pasar;
  • analisis finansial;
  • HKI;
  • regulasi alat kesehatan;
  • startup;
  • pemasaran;
  • pitching;
  • penyusunan kontrak;
  • pengukuran dampak dan SDGs.

c. Pelaksanaan pelatihan

  • Menyelenggarakan workshop.
  • Menyelenggarakan bootcamp inkubasi.
  • Menyelenggarakan klinik proposal.
  • Menyelenggarakan mentoring kelompok.
  • Menyelenggarakan coaching individu.
  • Menghadirkan praktisi industri dan regulator.
  • Menyelenggarakan seminar dan sharing session.

d. Pendampingan mentor

  • Menyiapkan daftar mentor.
  • Memetakan mentor sesuai kebutuhan tim.
  • Menetapkan jadwal mentoring.
  • Memantau kemajuan peserta.
  • Mengevaluasi kualitas mentoring.
  • Mengembangkan komunitas mentor dan alumni.

e. Pengembangan bahan ajar

  • Menyusun modul inkubasi.
  • Menyusun video pembelajaran.
  • Menyusun template BMC.
  • Menyusun template studi kelayakan.
  • Menyusun template pitch deck.
  • Menyusun panduan MVP.
  • Menyusun panduan HKI dan startup.
  • Menyusun studi kasus inovasi kesehatan.

f. Diseminasi dan budaya inovasi

  • Menyelenggarakan innovation day.
  • Menyelenggarakan kompetisi inovasi.
  • Menampilkan success story.
  • Membentuk komunitas inovator.
  • Menyebarluaskan informasi hibah dan kemitraan.
  • Mendorong budaya riset berorientasi produk dan dampak.
  • Mendukung program One Department One Innovation Product.

3. Kegiatan utama

  • Bootcamp pra-inkubasi.
  • Workshop MVP dan BMC.
  • Pelatihan HKI.
  • Pelatihan regulasi.
  • Pelatihan business pitching.
  • Coaching clinic.
  • Mentor matching.
  • Demo day.
  • Webinar industri.
  • Program alumni startup.

4. Luaran divisi

  • Kurikulum inkubasi.
  • Modul pelatihan.
  • Kalender edukasi tahunan.
  • Materi digital.
  • Database mentor.
  • Laporan perkembangan peserta.
  • Sertifikat pelatihan.
  • Komunitas inovator.
  • Dokumentasi praktik baik.
  • Knowledge repository Sentra Inkubasi Riset.

5. Indikator kinerja

  • Jumlah pelatihan yang diselenggarakan.
  • Jumlah peserta yang dilatih.
  • Tingkat peningkatan kompetensi peserta.
  • Jumlah mentor aktif.
  • Jumlah tim yang menyelesaikan program.
  • Persentase peserta yang menghasilkan MVP dan BMC.
  • Kepuasan peserta.
  • Jumlah peserta yang melanjutkan ke skema hibah.
  • Jumlah startup yang tetap aktif setelah program.